Sabtu, 31 Mei 2014
Rabu, 30 April 2014
TUGAS KEDUA PENGETAHUAN LINGKUNGAN
TEMA: PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN
Gambar 1. Pertumbuhan Penduduk Indonesia. Suasana gedung
Seiring dengan
perkembangan zaman, penduduk di seluruh dunia mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Termasuk penduduk di Indonesia. Sebagai manusia, memiliki
keturunan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi kita. Namun,
tanpa kita sadari memiliki keturunan dalam jumlah tidak terkendali, dapat
menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan eksistensi bagi manusia itu sendiri
dalam mencapai kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera.
Melihat
perannya, penduduk suatu negara dapat berperan sebagai objek dan subjek
pembangunan. Sebagai objek, artinya penduduk merupakan faktor yang harus
dibangun atau ditingkatkan kualitas hidupnya. Sedangkan sebagai subjek penduduk
merupakan faktor pelaku proses pembangunan. Di lihat dari sisi yang lain,
penduduk merupakan beban sekaligus potensi bagi suatu negara. Apabila suatu
negara pertumbuhan penduduknya sangat tinggi, ini merupakan masalah. Hal ini
dikarenakan kapasitas wilayah suatu Negara terbatas.
Indonesia
merupakan negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk cukup padat. Tidak
bisa di pungkiri bahwa laju pertumbuhan
penduduk Indonesia begitu pesat dan tidak bisa di hindari, meskipun
pemerintah telah melakukan upaya dan berbagai solusi serta berbagai semboyan
telah di tawarkan kepada masyarakat namun tetap saja laju pertumbuhan penduduk
tidak bisa terbantahkan. Meskipun solusi yang di tawarkan tidak sesuai dengan
harapan pemerintah, tapi setidaknya bisa mereduksi sebagian masalah yang ada. Penduduk
merupakan unsur penting dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan
mengembangkan kegiatan ekonomi.
Ada beberapa
hal yang menyebabkan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia sulit untuk
dihindari, di antaranya:
- peningkatan angka kelahiran,
- umur panjang,
- penurunan angka kematian,
- kurangnya pendidikan, pengaruh budaya,
- imigrasi dan emigrasi.
Dari segi ekonomi, pertumbuhan penduduk
yang tinggi tetapi tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang luas maka hal
ini akan menimbulkan pengangguran di mana-mana dan kemiskinan pun tercipta. Ini
tentu saja akan mempengaruhi proses kehidupan di bidang lainnya. Kebutuhan
ekonomi yang tidak memadai juga dapat berpengaruh pada tingkat pendidikan dan
kesehatan seseorang. Bagaimana mau memperoleh pendidikan dan kesehatan yang
layak, jika untuk kebutuhan hidup sehari-haripun mereka susah mendapatkannya.
Tak hanya berhenti di situ saja, tingkat kriminalitas pun akan meningkat. Orang
dalam kondisi lapar akan berbuat apa saja yang penting kebutuhannya bisa
terpenuhi. Ujung dari pertumbuhan penduduk yang tinggi itu adalah menimbulkan
kerusakan lingkungan dengan segala dampak yang menyertainya seperti menurunnya
kualitas pemukiman dan lahan yang ditelantarkan. Intinya, pertumbuhan penduduk
yang tinggi berpotensi menimbulkan kemiskinan dan menurunnya kesejahteraan
rakyat, sampai menurunnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat
menghambat perkembangan negara Indonesia.
Sementara itu jumlah penduduik indonesia disetiap
provinsi menurut Badan Pusat Statistik Laju pertumbuhan penduduk di gambarkan
pada tabel dibawah ini.
Menurut Badan
Pusat Statistik jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang menghuni Pulau
Jawa termasuk Madura, jumlah penduduk terbanyak adalah propinsi Jawa Barat
sebanyak 43,02 juta, diikuti kemudian oleh Jawa Timut 37,48 juta, Jawa Tengah
32,38 juta, Banten 10,64 juta, DKI Jakarta 9,59 juta dan DIY sebanyak 3,46 juta
orang. Namun demikian angka laju pertumbuhan penduduk periode 2000-2010 ini
yang tertinggi justru dicatat oleh Papua yaitu 5,39% dan terendah propinsi Jawa
Tengah sebesar 0,37%.
Gambar 1. Pertumbuhan Penduduk Indonesia. Suasana gedung
perkantoran
dan pemukiman padat penduduk di Jakarta
Gambar
2. Pemukiman padat penduduk terlihat di beberapa lokasi
di
Kota Semarang salah satunya di Pleburan
Gambar
3. Kepadatan penduduk yang mengakibatkan kemacetan
di
Ibu Kota
Perkembangan lingkungan permukiman di
daerah perkotaan tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan penduduk baik
karena faktor pertumbuhan penduduk secara alami serta proses urbanisasi. Banyaknya
pendatang dari luar kota yang jumlahnya banyak mendorong laju pertumbuhan
penduduk sehingga meningkatkan pemukiman padat penduduk.
Pemukiman
merupakan bagian dari lingkungan hidup yang digunakan sebagai tempat
tinggal dari sekelompok manusia yang saling
berinter - aksi serta berhubungan setiap hari dalam rangka untuk mewujudkan
masyarakat yang tenteram, aman dan damai. Permukiman adalah bagian dari
lingkungan hidup di luar kawasan lindung baik yang berupa kawasan perkotaan
maupun pedesaan yang berfungsi sebagai hunian dan tempat kegiatan yang
mendukung peri kehidupan dan penghidupan.
Pemukiman
adalah suatu struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat
berlindung, termasuk juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan
yang berguna untuk kesehatan jasmani dan rokhani serta keadaan sosialnya, baik
untuk keluarga maupun individu.
Pemukiman atau perumahan sangat berhubungan dengan
kondisi ekonomi sosial, pendidikan, tradisi atau kebiasaan, suku, geografi dan
kondisi lokal. Selain itu lingkungan perumahan atau pemukiman dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang dapat menentukan kualitas lingkungan perumahan tersebut
antara lain fasilitas pelayanan, perlengkapan, peralatan yang dapat menunjang
terselenggaranya kesehatan fisik, kesehatan mental, kesehatan sosial bagi
individu dan keluarganya.
Ciri-ciri permukiman kumuh yang tampak pada
citra adalah mempunyai pola tidak teratur, rapat tidak ada jarak antar rumah,
sebagian besar rumah beratapkan asbes atau seng dan sebagian kecil beratapkan
genteng. Pada citra tersebut, atap asbes terlihat sebagai warna putih,
sedangkan rumah yang beratapkan genteng terlihat berwarna oranye.
Hubungan Pemukiman dan Kesehatan
Kondisi-
kondisi ekonomi, sosial, pendidikan, tradisi/kebiasaan, suku, geografi dan
kondisi lokal sangat terkait dengan pemukiman/perumahan. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi atau yang dapat menentukan kualitas lingkungan
perumahan / pemukiman antara lain fasilitas pelayanan,
perlengkapan, peralatan yang dapat menunjang terselenggaranya keadaan fisik,
kesehatan mental, kesejahteraan sosial bagi individu dan keluarganya (dr. H.
Haryoto Kusnoputranto, SKM). Penyehatan lingkungan tempat pemukiman adalah
segala upaya untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan tempat pemukiman
beserta lingkungannya dan pengaruhnya terhadap manusia.
Tujuan dilaksanakan Kesehatan Lingkungan di Tempat
Permukiman
1.
Penataan dan pemukiman yang memenuhi syarat
kesehatan.
Pemukiman sehat adalah suatu tempat untuk tinggal
secara permanen, berfungsi sebagai tempat untuk bermukim, beristirahat,
berrekreasi dan sebagai tempat berlindung dari pengaruh lingkungan yang
memenuhi persyaratan fisiologis, psikologis, bebas dari penularan penyakit dan
kecelakaan. Satuan Lingkungan Permukiman adalah kawasan perumahan dalam
berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan
sarana lingkungan yang teratur.
2.
Terwujudnya suatu kondisi perumahan yang layak huni
dalam lingkungan yang sehat.
Ini artinya bahwa rumah di perumahan itu harus
sehat, rumah yang dapat menjadi tempat berlindung / bernaung dan
beristirahat sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani
maupun sosial. Kondisi perumahan yang layak huni artinya harus layak sebagai
tempat hunian yag dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Prasarana
lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan
lingkungan permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sarana lingkungan
adalah fasilitas penunjang berfungsi untuk penyelenggaraan
dan pengembangan kehidupan ekonomi, social dan budaya.
3.
Mengurangi resiko kebakaran, kecelakaan, penularan
penyakit.
Dalam mengurngi resiko kebakaran, kecelakaan,
penularan penyakit diperlukan sara dan utilitas. Utilitas umum merupakan
bangunan bangunan yang dibutuhkan dalam sistem pelayanan lingkungan yang
diselenggarakan baik oleh pemerintah atau swasta, Utilitas yang dimaksud adalah
penyediaan yang menyangkut jaringan air bersih, listrik, pembuangan sampah,
telepon dan gas .
BPLHD Ibu Kota Jakarta, Jumlah penduduk DKI Jakarta pada tahun 2012
berdasarkan proyeksi penduduk sebanyak 9.932.063 jiwa, dibandingkan dengan jumlah penduduk
pada tahun 2011sebanyak 9.761.992 jiwa,
telah terjadi peningkatan sebesar 170.071 jiwa atau naik
sebesar 1,74 persen. Perkembangan jumlah penduduk DKI Jakarta selama empat dasawarsa (1961-1990) jumlah
penduduk tumbuh dengan pesat dari 2,9 juta jiwa pada tahun 1961 menjadi 4,6
juta jiwa pada tahun 1971, atau laju pertumbuhan penduduk per tahun nya sebesar
4,62 persen. Sepuluh tahun berikutnya, jumlah penduduk bertambah lagi menjadi
6,5 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan 4,01 persen per tahun. Tahun 1990,
penduduk DKI Jakarta naik sekitar 1,7 juta jiwa, sehingga jumlah penduduk
menjadi 8,3 juta jiwa. Selama periode 1980-1990 laju pertumbuhan penduduk
sebesar 2,42 persen per tahun. Laju pertumbuhan pada periode ini mengalami
penurunan signifikan dibandingkan periode sepuluh tahun sebelumnya. Pada kurun
waktu 1990-2000, pertambahan penduduk DKI Jakarta dapat dikendalikan sehingga
kenaikannya hanya sekitar 0,16 persen. Pada periode 2000-2010, laju pertumbuhan
penduduk mengalami
penurunan menjadi 1,43 persen per tahun,
sedangkan pada tahun 2010-2012 menjadi 1,67 persen.
Jumlah penduduk DKI Jakarta sebanyak9.932.063juta
pada tahun 2012
tersebut merupakan jumlah penduduk “malam hari”.Keunikan jumlah penduduk DKI
Jakarta adalah adanya perbedaan jumlah penduduk pada malam hari dibandingkan
dengan siang hari. Pada siang hari di perkirakan mencapai sekitar 10,7 juta jiwa.
Kondisi ini di pengaruhi oleh penglaju (commuter) yaitu penduduk yang
tinggal di luar Wilayah DKI Jakarta tetapi melakukan aktivitas pada siang hari
seperti bekerja dan bersekolah di Wilayah DKI Jakarta.
Jumlah penduduk DKI Jakarta yang terus meningkat ini
perlu dicermati karena dapat menimbulkan permasalahan di berbagai bidang.
Masalah yang berkaitan erat dengan jumlah penduduk yang tinggi antara lain
masalah permukiman, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan ketenagakerjaan serta sanitasi lingkungan, dan salah
satu masalah yang muncul dan perlu di waspadai oleh Pemda DKI Jakarta adalah
munculnya permukiman-permukiman kumuh (slum area) di beberapa wilayah
DKI Jakarta.
Gambar 4. Pemukiman
padat penduduk di pinggir kali yang
terlihat sangat
kumuh.
Gambar 5. Pemukiman
padat penduduk di pinggiran rel kereta
Gambar 6. Pemukiman
dipinggiran Kali Cipinang yang dipenuhi sampah rumah
tangga di kawasan
pemukiman Cipinang, Jatinegara, Jakarta Timur.
OPINI
Permasalahan diatas menjadi tanggung jawab
kita bersama untuk menjadikan pertumbuhan penduduk yang tinggi ini sebagai
suatu hal yang positif atau negatif bagi bangsa dan negara Indonesia ke
depannya. Jika ingin menekan pesatnya pertumbuhan penduduk, maka kita dapat
melakukan hal-hal, yang di antaranya: menggalakkan program Keluarga Berencana
untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan massal,
sehingga akan mengurangi jumlah angka kelahiran, menunda masa perkawinan agar dapat
mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi, dan sebagainya. Selain itu, kita
dapat mengimbangi pertambahan penduduk dengan cara: penambahan dan penciptaan
lapangan kerja, meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan, mengurangi
kepadatan penduduk dengan program transmigrasi, meningkatkan produksi dan
pencarian sumber makanan, serta cara-cara lainnya.
Perkembangan lingkungan permukiman di
daerah perkotaan tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan penduduk baik
karena faktor pertumbuhan penduduk secara alami serta proses urbanisasi.
Pertumbuhan penduduk dan terbatasnya lahan di daerah perkotaan menyebabkan
semakin berkembangnya rumah petak kecil yang diperjualbelikan dan disewakan
kepada para pendatang. Rumah-rumah petak kecil tersebut kemudian berkembang
menjadi kawasan padat dan kumuh yang disebut dengan kawasan kumuh (slum area).
Untuk
mewujudkan sebuah pemukiman impian, bukan hanya menunggu kepedulian pemerintah
setempat yang selalu menunggu musibah datang baru bertindak. Namun yang dibutuhkan
adalah kepedulian masyarakat yang cerdas dalam menjaga kesehatan lingkungan
masing-masing. Kebersihan dan kreativitas masyarakat menjadi faktor utama dalam
mewujudkan kesehatan lingkungan pemukiman yang bersih, dan nyaman. Mengatasi
masalah kesehatan lingkungan pemukiman sangatlah tidak sulit. Jika kita mau
mengatasinya bersama-sama, hal-hal negatif yang diakibatkan oleh perilaku kita
dapat kita hindari sehingga terciptalah kesehatan lingkungan pemukiman. Agar
tercipta lingkungan yang sehat maka dibutuhkan syarat-syarat seperti
1.
Sistem drainase lingkungan yang baik: kawasan permukiman perkotaan, terutama
permukiman yang padat, biasanya tidak memiliki sistem saluran air yang baik.
Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harus segera membuat secara gotong
royong, baik dana maupun tenaga untuk membuat sistem drainase.
2.
Pepohonan rindang di setiap rumah, Manfaat pohon sangat besar pengaruhnya
terhadap kesehatan lingkungan pemukiman, selain dapat menyerap racun
karbondioksida yang berbahaya bagi kesehatan, pohon pun bisa menambah suasana
asri.
3.
Sanitasi dan sumur resapan, sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting
dari sebuah kesehatan lingkungan pemukiman yang layak huni. Dengan sistem
sanitasi yang bersih, masyarakat akan lebih tenang dan nyaman dalam melakukan
aktivitasnya. Sumur resapan memiliki fungsi unutk menjaga kualitas air tanah
dan mencegah terjadinya banjir, dan untuk mengalirkan air hujan agar tidak
menjadi genangan.
4.
Tempat pembuangan sampah, semakin padatnya penduduk, semakin banyaknya sampah
yang bertumpuk. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk
membuang sampah pada tempatnya. Setiap rumah diwajibkan mempunyai dua macam
tong sampah, satu unutk sampah organik dan satu untuk sampah nonorganik.
5.
Bangunan rumah dengan ventilasi yang baik, ciri rumah sehat adalah rumah yang
memiliki ventilasi yang baik sehingga pertukaran udara berjalan dengan lancar.
Jendela rumah minimal harus dibuka sehari sekali agar udara lembap dirumah
dapat diputar dengan udara diluar rumah. Inilah yang turut memengaruhi
kesehatan lingkungan pemukiman.
Referensi:
http://bplhd.jakarta.go.id/slhd2012/Docs/Lap_SLHD/Lap_3B.htm
Senin, 31 Maret 2014
KABUT ASAP RIAU
Hutan
mempunyai fungsi penting bagi kelangsungan mahluk hidup terutama manusia.
Fungsi penting hutan adalah mengambil karbondioksida dari udara dan
menggantinya dengan oksigen yang dibutuhkan mahluk hidup. Hutan adalah salah
satu sumber daya alam Indonesia yang diberikan oleh Allah SWT untuk
keharmonisan dan kesejahteraan hidup manusia. Kita bisa memanfaatkan hasil
hutan namun tetap harus dijaga pula kelestariannya. Jika hutan rusak, maka
oksigen tidak cukup untuk pernapasan. Kejadian pembakaran hutan di Riau adalah
salah satu kerusakan hutan yang ada di Indonesia dari sekian banyak kejadian
yang sering terjadi.
Seiring
makin pesatnya pertumbuhan penduduk, maka kebutuhan akan lahan pemukiman juga
semakin meningkat. Banyak cara yang dilakukan para perambah hutan untuk membuka
lahan, baik untuk pertanian, perindustrian maupun perumahan. Salah satu yang
sekarang jadi TREND adalah dengan
cara membakar, karena cara ini dianggap paling praktis dan cepat. Mereka
tidak mempedulikan efek dari pembakaran tersebut, dimana dari pembakaran yang
kecil ternyata merembet kemana-mana disekitar wilayah tersebut bahkan sampai ke
negara tetangga. Kejadian ini sudah pasti berdampak ke berbagai sumber
kehidupan seperti; gangguan pernapasan, kehidupan satwa sekitar hutan,
transportasi (darat, laut dan udara).
Bisa
dibayangkan berapa biaya untuk penyediaan masker, biaya pengobatan akibat gangguan
pernapasan, kerugian transportasi yang tidak beroperasi, belum lagi jika kita
di komplain oleh negara tetangga yang juga akan mengganggu hubungan bilateral
Indonesia. Mungkin
kita bertanya, siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini? Sudah pasti
pemerintah yang jadi sorotan. Ini akibat dari lemahnya pengawasan penjagaan
hutan yang apabila ada pembakaran lahan skala kecil dibiarkan, kalau melihat
satu titik kecilnya biasa, tapi ada berapa titikkah dari sekian ribu hektar
hutan yang dibakar, ditambah lagi jika pelaku sudah tertangkap, hukumannya
tidak sebanding dengan akibat/kerugian yang ditimbulkan. Liputan6.com, Pekanbaru – Jumlah tersangka pembakaran hutan dan
lahan di Riau terus bertambah. Hingga kini, sudah 103 orang tersangka yang
dijerat kepolisian setempat. Salah satu tersangka adalah korporasi dan sisanya
masyarakat. Hal tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo
Tejo SIK di pekanbaru, Riau, saat ditanyai perkembangan kasus kebakaran hutan.
Kita
sebagai warga negara yang sadar akan fungsi hutan, mari kita bantu pemerintah
dengan ikut mengkampanyekan pemeliharaan lingkungan/hutan, jangan sampai kasus
ini terjadi di daerah yang lain di negeri ini.
Refrensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan
http://news.liputan6.com/read/2029020/polda-riau-tetapkan-103-tersangka-pembakar-hutan-dan-lahan
Refrensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan
http://news.liputan6.com/read/2029020/polda-riau-tetapkan-103-tersangka-pembakar-hutan-dan-lahan
Kamis, 23 Januari 2014
PROPOSAL PENELITIAN HUBUNGAN ANTARA MINAT DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan
lingkungan sekitar kita yang amat cepat dalam berbagai aspek kehidupan, yang
dilatar belakangi oleh pesatnya kemajuan dibidang ilmu dan teknologi.
Perkembangan-perkembangan tersebut menimbulkan berbagai tantangan terutama
tantangan bagi perkembangan penduduk
bumi ini agar bisa setaraf dan sejalan dengan tuntunan perkembangan tersebut. Untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional yang antara lain yaitu meningkatkan
ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan ketrampilan maka salah
satu usaha yang ditingkatkan adalah menumbuhkan kemandirian belajar pada setiap
warga negara terutama pada siswa diberbagai sekolah, dengan menumbuhkan minat
dan motivasi belajar yang baik, maka prestasi belajar akan tumbuh dalam diri
siswa ini, tetapi hal tersebut masih jauh dari apa yang diharapkan.
Pendidikan
merupakan proses pembentukan kepribadian manusia. Pendidikan pada umumnya
bertujuan untuk membentuk manusia yang bermoral dan berilmu. Berbicara masalah
pendidikan, menyangkut pula masalah tentang lingkungan pendidikan, yang dikenal
dengan tripusat pendidikan, yaitu
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Dari ketiga lingkungan
tersebut yang paling berpengaruhi dalam menumbuhkan minat dan motivasi belajar
adalah lingkungan sekolah. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tidak lepas dari
peranan seorang guru disekolah. Bagaimana cara guru menumbuhkan minat dan
motivasi belajar disekolah. Untuk itu diperlukan usaha yang optimal dalam
mencapai tujuan tersebut.
Syaiful
Bahri Djamari (2012: 24) Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang
dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Belajar yang efektif dapat
membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan
tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan prestasi belajar
yang baik perlu diperhatikan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal
dalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, yaitu ada dorongan dan minat. Kondisi eksternal adalah kondisi
yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih,
sarana dan prasaran belajar yang memadai.
Keberhasilan pada dasarnya
tidak mungkin dapat dicapai tanpa didasari oleh minat yang tinggi dan
kecenderungan untuk menguasai kondisi lingkungan yang dinyatakan lewat sikap.
Dengan demikian prestasi belajar yang tinggi akan dapat dicapai oleh siswa
apabila siswa tersebut memiliki minat dan motivasi belajar yang tinggi.
Memurut
sardiman (2003: 75) Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang
bersifat non-intelektual.peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan
gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Motivasi belajar diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta
didik. Dengan kata lain, motivasi belajar adalah proses untuk mendorong peserta
didik agar dapat belajar untuk meraih prestasi yang lebih baik. Jadi guru
disekolah dalam menumbuhkan minat dan motivasi belajar sangatlah berpengaruh
dalam proses pembentukan kemandirian belajar peserta didik atau siswa. Pengaruh
minat dan motivasi belajar pemberian oleh guru sangatlah besar karena akan
membantu siswa dalam membentuk kemandirian siswa dalam meraih prestasi belajar.
Sesungguhnya
menumbuhkan minat belajar sangatlah penting dan tidak boleh diabaikan oleh guru
disekolah. Karena dengan minat dalam belajar, guru akan lebih mudah dalam
mencapai tujuan belajar dan tujuan pendidikan. Melihat latar belakang masalah
seperti di atas, peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yaitu
tentang hubungan antara minat dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar
siswa kelas X B SMA N 1 Gamping tahun
Pelajaran 2012/2013.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan
pembatasan masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.
Apakah
ada hubungan antara minat dengan prestasi belajar siswa kelas X B SMA N 1
Gamping tahun Pelajaran 2012/2013?
2.
Apakah
ada hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas X B
SMA N 1 Gamping tahun Pelajaran 2012/2013?
3.
Apakah
ada hubungan antara minat dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas X B SMA N 1
Gamping tahun Pelajaran 2012/2013?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini, untuk mengetahui:
1.
Hubungan
antara minat dengan prestasi belajar siswa kelas X B SMA N 1 Gamping tahun
Pelajaran 2012/2013.
2.
Hubungan
antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas X B SMA N 1 Gamping
tahun Pelajaran 2012/2013.
3.
Hubungan
antara minat dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas X B SMA N
1 Gamping tahun Pelajaran 2012/2013.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian Minat
Minat
adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketrikatan pada suatu hal dan aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh (Slameto,2010: 180). Minat adalah perasaan yang ingin
tahu, mempelajari, mengagumi atau memiliki sesuatu (Djaali, 2004 : 122). Minat
adalah kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang,
aktivitas atau situasi yang menjadi obyek dari minat tersebut dengan disertai
perasaan senang (Abdul Rahman,2004 : 262).
Crow dan
crow mengatakan bahwa minat berhubungan
dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan
dengan orang lain, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan
itu sendiri (Djaali,2007 : 121).
Dari uraian
diatas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan atau keinginan yang
tinggi terhadap sesuatu yang ingin dicapai.
2.1.1 Jenis jenis minat
Minat dibagi dalam enam jenis (Djaali, 2007 : 122)
yaitu :
1)
Realistis
Orang
realistis umumnya mapan, kasar, praktis, berfisik kuat, dan sering sangat
atletis, memiliki koordinasi otot yang baik dan terampil. Akan tetapi ia kurang
mampu menggunakan medium komunikasi verbal dan kurang memiliki keterampilan
berkomunikasi dengan orang lain.
2)
Investigative
Orang
investigative termasuk orang yang berorientasi keilmuan. Mereka umumnya
berorientasi pada tugas, introspektif, dan asocial, lebih menyukai memikirkan
sesuatu dari pada melaksanakannya, memiliki dorongan kuat untuk memahami alam,
menyukai tugas tugas yang tidak pasti (ambiguous), suka bekerja sendirian,
kurang pemahaman dalam kepemimpinan akademik dan intelektualnya, menyatakan
diri sendiri sebagai analisis, selalu ingin tahu, bebas, dan bersyarat, dan
kurang menyukai pekerjaan yang berulang.
3)
Artistik
Orang
artistik menyukai hal hal yang tidak terstruktur, bebas, memiliki kesempatan
bereaksi, sangat membutuhkan suasana yang dapat mengekspresikan sesuatu secara
individual, sangat kreatif dalam bidang seni dan musik.
4)
Social
Tipe
ini dapat bertanggung jawab, berkemanusiaan, dan sering alim, suka bekerja
dalam kelompok, senang menjadi pusat perhatian kelompok, memiliki kemampuan
verbal, terampil bergaul, menghindari pemecahan masalah secara intelektual,
suka memecahkan masalah yang ada keitannya dengan perasaan; menyukai kegiatan
menginformasikan, malatih dan mengajar.
5)
Enterprising
Tipe
ini cenderung menguasai atau memimpin orang lain, memiliki keterampilan verbal
untuk berdagang, mamiliki kemampuan untuk mencapai tujuan organisasi, agresif,
percaya diri, dan umumnya sangat aktif.
6)
Konvensional
Orang
konvensional menyukai lingkungan yang sangat tertib, menyenangi komunikasi
verbal, senang kegiatan yang berhubungan dengan angka, sangat efektif
menyelesaikan tugas yang berstruktur tetapi patuh, praktis, senang, tertib,
efisien; mereka mengidentifikasi dengan kekuasaan dan materi.
2.1.2 Faktor yang menimbulkan minat
Crow and
Crow (Abdul Rahman,2004 : 264), berpendapat ada tiga faktor yang menjadi
timbulnya minat, yaitu :
1)
Dorongan
dari dalam diri individu
Misal
dorongan untuk makan, ingin tahu seks. Dorongan untuk makan akan membangkitkan
minat untuk bekerja atau mencari penghasilan, minat terhadap produksi makanan
dan lain lain. Dorongan ingin tahu atau rasa ingin tahu akan membangkitkan
minat untuk membaca, belajar, menuntut ilmu,melakukan penelitian dan lain lain.
Dorongan untuk seks akan membangkitkan minat untuk menjalin hubungan dengan
lawan jenis, minat terhadap pakaian dan kosmetika dan lain lain.
2)
Motif
sosial
Dapat
menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan suatu aktivitas
tertentu. Misalnya minat terhadap pakaian timbul karena ingin mendapat
persetujuan atau penerimaan dan perhatian orang lain. Minat untuk belajar atau
menuntut ilmu pengetahuan timbul karena ingin mendapat penghargaan dari
masyarakat, karena biasanya yang memiliki ilmu pengetahuan cukup luas (orang
pandai) mendapat kedudukan yang tinggi dan terpandang dalam masyarakat.
3)
Faktor
emosional
Minat
mempunyai hubungan yang erat dengan emosi. Bila seseorang mendapatkan
kesuksesan pada aktivitas akan menimbulkan perasaan senang, dan hal tersebut
akan memperkuat minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu kegagalan
akan menghilangkan minat terhadap hal tersebut.
2.2 Pengertian
Motivasi
Kata
motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Motif dikatakan sebagai daya penggerak
dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas aktivitas
tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan suatu kondisi
intern (kesiapsiagaan). Motivasi berasal dari kata “motif” yang diartikan
sebagai “daya penggerak yang telah menjadi aktif” (Sardiman,2003: 73).
Berelzon
dan Steiner mengemukakan bahwa “is an
inner state that energizer, activates, or moves (hence ‘motivation’), and that
directs or channels behavior toward goals” (adalah suatu keadaan dari dalam
yang memberi kekuatan, yang menggiatkan, atau yang menggerakan, sehingga
disebut ‘penggerakan’ atau ‘motivasi’, dan yang mengarahkan atau menyalurkan
perilaku ke arah tujuan) (Alex Sobur,2011 : 267).
Eysenck
dan kawan kawan merumuskan sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan
kegiatan, intensitas dan konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku manusia
merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep konsep lain seperti minat, konsep
diri,sikap dan sebagainya (Slameto,2010 : 170 ). Sartain mengatakan bahwa
motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang
mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang
(incentive). Tujuan adalah yang membatasi/menentukan tingkah laku organisme itu
(Ngalim Purwanto, 2007 : 61).
Menurut Mc. Donald, motivasi
adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya
“feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan (Sardiman,2003:
73).
Dari
urian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah daya penggerak dari dalam
diri yang memberi kekuatan, yang menggiatkan serta arah umum dari tingkah laku
manusia terhadap suatu tujuan.
2.2.1 Macam macam motivasi
Berbicara
tentang jenis dan macam motivasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.
Sardiman mengatakan bahwa motivasi itu sangat bervariasi (sardiman,2003: 86)yaitu:
1.
Motivasi
dilihat dari dasar pembentukannya
a)
Motif-motif
bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir
b)
Motif-motif
yang dipelajari artinya motif yang timbul karena dipelajari.
2.
Motivasi
menurut pembagiaan dari woodworth dan marquis dalam sardiman:
a)
Motif
atau kebutuhan organis misalnya kebutuhan minum, makan, bernafas, seksual, dan
lain-lain.
b)
Motof-motif
darurat misalnya menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, dan sebagainya.
c)
Motif-motif
objektif
3.
Motivasi
jasmani dan rohani
a)
Motivasi
jasmani, seperti, rileks, insting otomatis, napas dan sebagainya.
b)
Motivasi
rohani, seperti kemauan atau minat.
4.
Motivasi
intrisik dan ekstrinsik
a)
Motivasi
instrisik adalah motif-motif yang terjadi aktif atau berfungsi tidak perlu
diransang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk
melakukan sesuatu.
b)
Motivasi
ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya peransang
dari luar (Sardiman, 2003: 90).
Adanya
berbagai jenis motivasi di atas, memberikan suatu gambaran tentang motif-motif
yang ada pada setiap individu. Adapun motivasi yang berkaitan dengan mata
pelajaran bahasa arab adalah motivasi ekstrinsik, dimana motivasi ini
membutuhkan rangsangan atau dorongan dari luar misalnya, media, baik media
visual, audio, maupun audio visual serta buku-buku yang dapat menimbulkan dan
memberikan inspirasi dan ransangan dalam belajar.
Adapun bentuk motivasi yang sering
dilakukan disekolah adalah memberi angka, hadiah, pujian, gerakan tubuh,
memberi tugas, memberi ulangan, mengetahui hasil, dan hukuman (Djmarah dan
Zain,2002: 168). Dari kutipan di atas, maka penulis dapat menjelaskan hal
tersebut sebagai berikut:
a)
Nilai
Memberikan
nila artinya adalah sebagai satu simbol dari hasil aktifitas anak didik. Dalam memberi nilai ini, semua anak
didik mendapatkan hasil aktifitas yang
bervariasi. Pemberian angka kepada
anak didik diharapkan dapat memberikan dorongan atau motivasi agar
hasilnya dapat lebih ditingkatkan lagi.
b)
Hadiah
Maksudnya adalah suatu pemberian berupa
kenang-kenangan kepada anak didik yang berprestasi. Hadiah ini akan dapat menambah
atau meningkatkan semangat (motivasi) belajar siswa karena akan diangap sebagai
suatu penghargaan yang sangat berharga bagi siswa.
c)
Pujian
Memberikan pujian terhadap hasil kerja
anak didik adalah sesuatu yang diharapkan oleh setiap individu. Adanya pujian
berarti adanya suatu perhatian yang diberikan kepada siswa, sehingga semangat
bersaing siswa untuk belajar akan tinggi.
c)
Gerakan
tubuh
Gerakan tubuh artinya mimik, parah,
wajah, gerakan tangan, gerakan kepala, yang membuat suatu perhatian terhadap
pelajaran yang disampaikan oleh guru. Gerakan tubuh saat memberikan suatu
respon dari siswa artinya siswa didalam menyimak suatu materi pelajaran lebih
mudah dan gampang.
d)
Tugas
Tugas merupakan suatu pekerjaan yang
menuntut untuk segera diselesaikan. Pemberian tugas kepada siswa akan
memberikan suatu dorongan dan motivasi kepada anak didik untuk memperhatikan
segala isi pelajaran yang disampaikan.
f) Ulangan
Ulangan adalah strategi yang paling
penting untuk menguji hasil pengajaran
dan juga memberikan motivasi belajar kepada siswa untuk mengulangi
pelajaran yang telah disampaikan dan diberikan oleh guru.
g) Mengetahui hasil
Rasa ingin tahu siswa kepada sesuatu
yang belum diketahui adalah suatu sifat yang ada pada setiap manusia. Dalam hal
ini siswa berhak mengetahui hasil pekerjaan yang dilakukannya.
h) Hukuman
Dalam proses belajar mengajar,
memberikan sanksi kepada siswa yang melakukan kesalahan adalah hal yang harus
dilakukan untuk menarik dan meningkatkan perhatian siswa. Misalnya memberikan
pertanyaan kepada siswa yang bersangkutan.
2.2.2 Fungsi motivasi
Sehubungan dengan hal
tersebut ada tiga fungsi motivasi (Sardiman,2003: 85) yaitu :
1)
Mendorong
manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepas energi.
Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan
dikerjakan.
2)
Menentukan
arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian
motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan
rumusan tujuannya.
3)
Menyelesaikan
perbuatan, yakni menentukan perbuatan perbuatanapa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai
tujuan, dengan menyisihkan perbuatan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi
tujuan tersebut.seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat
lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan
waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan
tujuan.
2.2.3 Teori tentang motivasi
1) Teori instink
Menurut teori ini setiap
tindakan manusia diasumsikan seperti jenis animal/binatang. Tindakan manusia
itu dikatakan selalu berkaitan dengan instink atau pembawaan. Dalam memberikan respon
terhadap adanya kebutuhan seolah olah tanpa dipelajari. Tokoh teori ini adalah
Mc.Dougall.
2) Teori fisiologis
teori ini juga disebutnya
“behavior theoris” menurut teori ini semua tindakan manusia itu berakar pada
tindakan pada manusia itu berakar pada usaha usaha memenuhi kepuasan dan
kebutuhan organic atau kebutuhan untuk kepentingan fisik. Atau disebut
kebutuhan primer, seperti kebutuhan tentang makanan, minuman, udara, dan lain
lain yang diperlukan untuk kepentingan tubuh seseorang. Dari teori inilah
muncul perjuangan hidup, perjuangan untuk mempertahankan hidup, struggle for
survival.
3) Teori psikoanalitik
Teori ini mirip dengan
instink, tetapi lebih ditekankan pada unsur unsur kejiwaan yang ada pada diri
manusia. Bahwa setiap tindakan manusia karena adanya unsur pribadi manusia
yakni id dan ego. Tokon dari teori ini adalah Freud (Sardiman,2003 : 83).
2.3 Pengertian
Belajar
Belajar
adalah suatu proses yamg ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.
Perubahan dalam diri seseorang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti
berubahnya pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya,
keterampilan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain
aspek yang ada pada individu (Sudjana,2002 :280).
Belajar
dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan
timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya
respon utama, dengan sarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah laku baru itu
bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara
oleh suatu hal (Nasution, dkk.2000: 34). Sedangkan menurut Slameto belajar
adalah ”merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”
(Slameto, 2003 : 2).
Hilgard
mengatakan : “learning is the prossesby which an activity originates or is
changed through training procedures as distinguished from changes by factors
not attributable to training”. Belajar adalah proses yang melahirkan atau
mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan yang dibedakan dari perubahan
perubahan oleh faktor faktor yang tidak termasuk latihan, misalnya perubahan karena
mabuk atau minum ganja bukan termasuk hasil belajar (Nasution,2000: 35).
Belajar
adalah proses yang terjadi dalam otak manusia. saraf dan sel sel otak yang
bekarja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga,dan
lain lain lantas disusun oleh otak sebahgai hasil belajar (Alex Sobur,2011
:217). Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa belajar
adalah proses usaha yang dilakukan oleh individu yang memungkinkan berubahnya
suatu tingkah laku melalui jalan latihan latihan.
2.3.1 Jenis jenis belajar
Belajar ada
beberapa macam jenisnya berhubung dengan hal yang harus dipelajari. Belajar
berenang tak sama dengan belajar memecahkan soal sola Matematika. Belajar
menyebutkan abjad ada bedanya dengan belajar hidup jujur, bertanggung jawab,
dan sebagainya.Karena itu dapat dibedakan beberapa jenis belajar,
(Nasution,2000: 57) yakni :
1)
Belajar
berdasarkan pengamatan (sensory type of learning)
Hampir seluruh pengetahuan
berhubungan dengan pengamatan dunia sekitar, yaitu pengamatan sensoris dengan
berbagai alat dari: melihat, mendengar, memcecap dan meraba.berkat pengamatan
seorang bayi mula mula mengenal ibunya, kemudian dikenalnya binatang, manusia danbenda
benda lain disekitarnya, demikian pula bunyi bunyi, bentuk bentuk , sifat sifat
dan sebagainya.
2) Belajar berdasarkan gerak (motor type of learning)
Pada taraf pemulaan yang
dipentingkan ialah pelaksanaan yang seksama. Kecepatan mula mula tak usah
dihiraukan. Kesalahan pada mulanya sering menghalangi kecepatan efisien gerak.
Setelah tecapai pelaksanaan yang memuaskan, barulah kecakapan itu dilatih untuk
mempertinggi kecepatan. Ada keccepatan yang memerlukan latihan beberapa jam ada
pula beberapa bulan lamanya.
3) Belajar berdasarkan menghafal (memory type of learning)
Mungkin sekali belajar
bersifat hafalan ini yang paling banyak digunakan disekolah, baik di sd maupun
disekolah yang lebih tinggi, sebab tujuan belajar adalah menempuh ujian dan
untuk itu di perlukan penguasaan pengetahuan siap.
4) Belajar berdasarkan pemecahan masalah
(problem solving type of learning)
Setiap orang dan makhluk
lainnya mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhinya. Ada yang mudah dipuaskan
(misalnya dahaga), ada yang sulit (mencapai cita cita, gelar dan sebagainya),
kebutuhan yang mudah dipuaskan tidak menemui kesulitan dan kebutuhan yang tak
mungkin di penuhi dikesampingkan. Ada pula kebutuhan yang menemui kesulitan
atau kesukaran sebelum dapat dipuaskan.
5) Belajar berdasarkan emosi (emotional type of learning)
Disekolah biasanya
diutamakan mendidik anak anak “how to make a living” bagaimana cara mencari
nafkah dan kurang diperhatikan “how to live”, bagaimana cara hidup. Pendidikan
disekolah kebanyakan ditujukan kepada pembentukan intelektual dan keterampilan
akan tetapi segi kepribadian sering diabaikan, seperti ketekunan menghadapi
kesulitan, ketelitian, kebersihan, sikap yang sehat terhadap pekerjaan,
kecakapan bergaul dengan orang lain, cita cita, minat yang luas, dan
sebagainya.
2.3.2 Tujuan belajar
Tujuan belajar ada tiga
jenis (Sardiman,2003: 27), yaitu :
1) Untuk mendapatkan pengetahuan
Hal ini ditandai dengan
kemampuan berpikir. Pemilikan pengetahuan dan kemampuan berpikir sebagai yang
tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain tidak dapat mengembangkan kemampuan
berfikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berfikir akan memperkaya
pengetahuan. Tujuan inilah yang paling penting memiliki kecenderungan lebih
besar perkembangannya didalam kegiatan belajar.
2) Penanaman konsep dan ketrampilan
Penanaman ketrampilan atau
merumuskan konsep juga memerlukan suatu ketrampilan. Jadi soal ketrampilan yang
bersifat jasmani maupun rohani. Ketrampilan jasmaniah adalah ketrampilan ketrampilan
yang dapat dilihat, diamati, sehingga akan menitik beratkan pada keterampilan
gerak/penampilan dari anggota tubuh seseorang yang sedang belajar.sedangkan
ketrampilan rohani lebih rumit, karena tidak selalu berurusan dengan masalah
masalah ketrampilan yang dapat dilihat bagaimana ujung pangkalnya, tetapi lebih
abstrak, menyangkut persoalan persoalan penghayatan dan keterampilan berfikir
serta kreatifitas untuk menyelesaikan dan merumuskan masalah atau konsep.
3) Pembentukan sikap
Dalam menumbuhkan sikap
mental, perilaku pribadi anak didik, guru harus lebih bijak dan hati hati dalam
pendekatannya. Untuk ini dibuthkan kecakapan mengarahkan motivasi dan berpikir
dengan pidak lupa menggunakan pribadi guru itu sendiri sebagai contoh atau
model.
2.3.3 Faktor faktor yang mempengaruhi belajar
1) Faktor lingkungan
Lingkungan merupakan bagian
dari kehidupan anak didik. Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan
berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem. Saling
ketergantungan antara lingkungan biotik dan abiotik tidak dapat dihindari.
Itulah hukum alam yang harus dihadapi oleh anak didik sebagai mahluk hidup yang
tergolong kelompok biotik.
2) Faktor instrumental
Setiap sekolah mempunyai
tujuan yang akan dicapai, tujuan tersebut tentu saja menyangkut pada tingkat
kelembagaan. Dalam rangka melicinkan ke arah itu diperlukan seperangkat
kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya dan semuanya dapat
diberdayagunakan menurut fungsi masing-masing kelengkapan sekolah. Kurikulum
dapat dipakai oleh guru dalam merencanakan program pengajaran. Program sekolah
dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar. Sarana dan
fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar berdaya guna dan
berhasil, guna bagi kemajuan belajar anak didik disekolah.
3) Kondisi fisiologis
Kondisi fisiologis pada
umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang
dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam
keadaan kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya
dibawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi mereka lekas lelah, mudah
mengantuk, dan sukar menerima pelajaran (Noehi Nasution, 2008: 189).
4) Kondisi psikologis
Belajar pada hakikatnya adalah
proses psikologis. Oleh karena itu, semua keadaan dan fungsi psikologis tentu
saja mempengaruhi belajar seseorang. Maka dari itu, belajar berarti bukanlah
berdiri sendiri, terlepas dari faktor lain seperti faktor dari luar dan faktor
dari dalam. Faktor psikologis merupakan faktor dari dalam tentu saja merupakan
hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Meski faktor
luar mendukung, tetapi faktor psikologis tidak mendukung, maka faktor luar itu
akan kurang signifikan. Oleh karena itu, minat, kecenderungan, bakat, motivasi,
dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah faktor-faktor psikologis yang utama
mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik.
2.3.4 Teori tentang belajar
Teori tentang belajar ada
tiga (Sardiman, 2003 : 30) yaitu :
1) Teori belajar menurut ilmu jiwa daya
Menurut teori ini, jiwa
manusia itu terdiri dari bermaacam macam daya. Masing masing daya dapat dilatih
dalam rangka untuk memenuhi fungsinya. Untuk melatih suatu daya ingat dalam
suatu belajar misalnya dengan menghafal angka angka atau kata kata, istilah
istilah asing. Begitu pula untuk daya daya yang lain. Yang penting dalam hal
ini bukan penguasaan bahan atau materinya, melainkan hasil dari pembentukan
dari daya daya itu. Kalau sudah demikian maka seseorang yang belajar itu akan
berhasil.
2) Teori belajar menurut ilmu jiwa gestalt
Teori ini berpandangan bahwa
keseluruhan lebih penting dari bagian bagian/unsur. Sebab keberadaannya
keseluruhan itu juga lebih penting. Sehingga dalam kegiatan belajar bermula
pada suatu pengamatan. Pengamatan itu penting dilakukan secara menyeluruh.
Tokoh penting yang menerapkan dari kegiatan pengamatan kegiatan belajar itu
adalah Koffka. Dalam mempersoalkan belajar, Koffka berpendapat bahwa hukum
hukum organisasi dalam pengamatan itu berlaku/bisa diterapkan dalam kegiatan
belajar. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa belajar pada pokoknya yang
terpenting adalah penyesuaian yang pertama, yakni medpat respon yang tepat.
Karena penemuan respon yang tepat tergantung pada kesediaan diri si subjek
belajar dengan segala panca indranya.
3) Teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi
Ilmu jiwa asosiasi
berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian
bagian atau unsur unsurnya.
2.4 Pengertian
Prestasi Belajar
Prestasi
adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara
individual maupun kelompok (Syaiful Bahri Djamarah, 2012: 19).
WJS. Poerwadarminta berpendapat bahwa, prestasi adalah hasil yang
telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Sedangkan menurut Mas`ud
Khasanah Abdul Qohar, prestasi adalah apa yang telah diciptakan, hasil
pekerjaan, hasil menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan hati
(Syaiful Bahri Djamarah,2012: 21).
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan
yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan
jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun kelompok dlam bidang
kegiatan tertentu.
Belajar
adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah
kesan dari bahan yang telah dipahami (Syaiful Bahri Djamarah, 2012: 21). Prestasi
belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan kesan yang mengakibatkan
perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar
(Syaiful Bahri Djamarah, 2012: 23). Maka dapat difahami dari uraian diatas,
mengenai makna “prestasi” dan “belajar”. Prestasi pada dasarnya adalah hasil
yang diperoleh dari suatu aktivitas. Sedangkan belajar adalah suatu proses yang
mengakibatkan perubahan dalam individu, yakni perubahan tingkah laku.
2.4.1
Faktor faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
1.
Faktor
faktor yang timbul dari dalam diri siswa (intern)
Sehubungan dengan faktor
intern ini ada tingkat yang perlu dibahas menurut Slameto (2010 : 54) yaitu
faktor jasmani, faktor psikologi dan faktor kelelahan.
a) Faktor
Jasmani
Dalam faktor jasmaniah ini
dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh.
1)
Faktor
kesehatan
Faktor kesehatan sangat
berpengaruh terhadap proses belajar siswa, jika kesehatan seseorang terganggu
atau cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk, jika keadaan
badannya lemah dan kurang darah ataupun ada gangguan kelainan alat inderanya.
2)
Cacat
Cacat tubuh adalah sesuatu
yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurnanya mengenai tubuh atau badan.
Cacat ini berupa buta, setengah buta, tulis, patah kaki, patah tangan, lumpuh,
dan lain-lain.
b) Faktor psikologis
1) Intelegensi
Intelegensi atau kecakapan
terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke
dalam situasi yang baru dan cepat efektif mengetahui/menggunakan konsep-konsep
yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi.
2) Perhatian
Perhatian adalah keaktifan jiwa
yang dipertinggi jiwa itupun
bertujuan semata-mata kepada suatu benda.
3) Bakat
Menurut Hilgard bahwa bakat adalah the capacity to learn.
Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar yang dimiliki oleh
seorang individu (Slameto, 2010: 57).
4) Minat
Minat adalah menyangkut
aktivitas aktivitas yang dipilih dan dilakukan secara bebas oleh individu.
5) Motivasi
Motivasi erat sekali
hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar, di dalam menentukan
tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu
perlu ada tindakan dan berbuat untuk
mencapainya.
6) Kematangan
Kematangan adalah sesuatu
tingkah atau fase dalam pertumbuhan menuju kedewasaan individu atau seseorang.
7) Kesiapan
Kesiapan menurut James
Drever seperti yang dikutip adalah preparedes to respon or react, artinya
kesediaan untuk memberikan respon atau reaksi.
2. Faktor yang berasal dari luar (faktor ekstern)
a) Keluarga
Faktor keluarga sangat berperan aktif bagi
siswa dan dapat mempengaruhi dari keluarga antara lain: cara orang tua
mendidik, relasi antara anggota keluarga, keadaan keluarga, pengertian orang
tua, keadaan ekonomi keluarga, latar belakang kebudayaan dan suasana rumah.
b) Cara orang tua mendidik anak anaknya dalam
keluarga
Cara orang tua mendidik
besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak, hal ini dipertegas
oleh Wirowidjojo mengemukakan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang
pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk mendidik dalam
ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan mutu pendidikan dalam ukuran besar
yaitu pendidikan bangsa dan negara.
c) Relasi antar anggota keluarga
Yang penting dalam keluarga
adalah relasi orang tua dan anaknya. Selain itu juga relasi anak dengan
saudaranya atau dengan keluarga yang lain turut mempengaruhi belajar anak.
Wujud dari relasi adalah apakah ada kasih sayang atau kebencian, sikap terlalu
keras atau sikap acuh tak acuh, dan sebagainya.
d) Keadaan keluarga
Keadaan keluarga sangat
mempengaruhi prestasi belajar anak karena dipengaruhi oleh beberapa faktor dari
keluarga yang dapat menimbulkan perbedaan individu seperti kultur keluarga,
pendidikan orang tua, tingkat ekonomi, hubungan antara orang tua, sikap keluarga
terhadap masalah sosial dan realitas kehidupan.
e) Pengertian
Anak belajar perlu dorongan
dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan
tugas-tugas rumah. Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib
memberi pengertian dan mendorongnya sedapat mungkin untuk mengatasi kesulitan
yang dialaminya.
f) Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi keluarga
erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain terpenuhi
kebutuhan pokoknya, misalnya makanan, pakaian, perlindungan kesehatan, dan
lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja,
kursi, penerangan, alat tulis menulis, dan sebagainya.
g) Latar belakang kebudayaan
Tingkat pendidikan atau
kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar, Oleh karena
itu perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik, agar mendorong
tercapainya hasil belajar yang optimal.
h) Rumah
Suasana rumah sangat
mempengaruhi prestasi belajar, suasana rumah merupakan situasi atau kejadian
yang sering terjadi di dalam keluarga di mana anak-anak berada dan belajar.
Suasana rumah yang gaduh, bising dan berantakan tidak akan memberikan
ketenangan terhadap diri anak untuk belajar.
3. Faktor sekolah
a) Guru dan cara mengajar
Guru dan cara mengajarnya
merupakan faktor penting, bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi
rendahnya pengetahuan yang dimiliki oleh guru, dan bagaimana cara guru itu
mengajarkan pengetahuan itu kepada anak-anak didiknya turut menentukan hasil
belajar yang akan dicapai oleh siswa.
b) Model pembelajaran
Model atau metode
pembelajaran sangat penting dan berpengaruh sekali terhadap prestasi belajar
siswa,
c) Alat-alat pelajaran
Untuk dapat hasil yang
sempurna dalam belajar, alat-alat belajar adalah suatu hal yang tidak kalah
pentingnya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, misalnya perpustakaan,
laboratorium, dan sebagaianya. bahwa sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan
perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang
baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan
mempermudah dan mempercepat belajar anak.
d) Kurikulum
Kurikulum diartikan sejumlah
kegiatan yang diberikan kepada siswa, kegiatan itu sebagian besar menyajikan
bahan pelajaran agar siswa dapat menerimanya, menguasai dan mengembangkan bahan
pelajaran itu. Kurikulum yang tidak baik akan berpengaruh tidak baik terhadap
proses belajar maupun prestasi belajar siswa.
d)
Waktu
sekolah
Waktu sekolah adalah waktu
terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu sekolah dapat pagi hari,
siang, sore bahkan malam hari. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa
(Slameto, 2010 : 68).
2.5 Hubungan
antara Minat dengan Prestasi Belajar
Minat merupakan suatu kecenderungan
subjek yang menetap untuk merasa tertarik pada bidang studi tertentu dan merasa
senang untuk mempelajari materi itu. Dengan pengertian tersebut dapat ditemukan
adanya beberapa unsur pokok dalam pengertian minat, yaitu adanya perhatian,
daya dorong tiap-tiap individu dan kesenangan.
Prestasi
belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai menurut kemampuan yang tidak
dimiliki dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada
diri seseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu, prestasi
belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian. Siswa
yang memiliki minat yang tinggi mereka akan dapat mencapai prestasi belajar
yang tinggi, sebaliknya siswa yang memiliki minat yang rendah mereka akan
kurang dapat mencapai prestasi belajar. Sebab
minat itu merupakan suatu
kesadaran dalam belajar bagi siswa. Belajar dengan penuh kesadaran akan
memberikan hasil yang berbeda dengan bila dibandingkan dengan belajar
asal-asalan. Jadi semakin tinggi minat semakin tinggi pula prestasi yang
dicapai oleh siswa.
2.6 Hubungan
antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar
Motivasi dapat juga dikatakan
serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi kondisi tertentu, sehingga
seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila tidak ia suka maka,
akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.
Motivasi belajar adalah merupakan faktor
psikis yang bersifat non intelektual. Perannya yang khas adalah dalam hal
penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang
memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan
belajar. Seseorang itu tidak memiliki motivasi, kecuali karena paksaan atau
sekedar seremonial. Seseorang yang memiliki intelegensi tinggi, bisa jadi gagal
karena kekurangan motivasi. Hasil belajar itu akan optimal kalau ada motivasi
yang tepat.
2.7 Hubungan antara Minat dan Motivasi
Belajar dengan Prestasi Belajar
Prestasi
merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau
periode tertentu. Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan
kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin
dicapai. Untuk meningkatkan prestasi belajar yang baik perlu diperhatikan
kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal dalah kondisi atau situasi
yang ada dalam diri siswa, yaitu ada dorongan
dan minat. Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri
pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih, sarana dan prasaran
belajar yang memadai.
Keberhasilan
seseorang pada dasarnya tidak mungkin dapat dicapai tanpa didasari oleh minat
yang tinggi dan kecenderungan untuk menguasai kondisi lingkungan yang
dinyatakan lewat sikap. Dengan demikian prestasi belajar yang tinggi akan dapat
dicapai oleh siswa apabila siswa tersebut memiliki minat dan motivasi belajar
yang tinggi.
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis
metode penelitian
Jenis penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif karena hasil dari penelitian akan dihitung dengan angka
statistik.
3.2 Waktu
dan tempat penelitian
Penelitian akan dilaksanakan
pada bulan April sampai dengan bulan Mei 2013. Penelitian ini di Sekolah
Menengah Atas Negeri I Gamping.
3.3
Variabel penelitian
Hatch
dan Farhadi mengemukakan bahwa Variabel dapat didefinisikan sebagai atribut
dari seseorang atau obyek yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan
yang lain atau satu obyek dengan obyek lain ( Sugiono,2001 : 21 ).
Oleh karena itu seorang
peneliti perlu melakukan identifikasi terlebih dahulu terhadap variabel
penelitiannya. Identifikasi variabel merupakan langkah penetapan variabel utama
dalam penelitian dan penentuan fungsinya masing masing (Saifuddin,2010:60).
Menurut hubungan antara satu
variabel dengan variabel yang lain, maka macam macam variabel dalam penelitian
dapat dibedakan menjadi (dalam Sugiono,2001 : 21) :
a) Variabel independen : variabel ini sering
disebut variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa indonesia sering
disebut variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang menjadi
sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
b) Variabel dependen : sering disebut variabel
output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa indonesia dering disebut sebagai
variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
3.4
Populasi
Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai
kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian di tari kesimpulan (Sugiono,2001 : 57).
Jadi
populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda benda alam yang lain. Populasi
juga bukan sekedar yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi
suluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Dalam
penelitian ini, yang mejadi subjek adalah siswa kelas XB SMA Negeri 1 Gamping, Tahun Pelajaran
2012/2013, terdiri atas 96 siswa. Adapun rincian jumlah siswa masing masing
kelas adalah sebagai berikut :
|
No.
|
Kelas
|
Jumlah
|
|
1.
|
XA
|
32
|
|
2.
|
XB
|
32
|
|
3.
|
XC
|
32
|
3.5 Sampel
penelitian
Sampel
adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut (Sugiono,2001: 57 ). Dalam penelitian ini yang menjadi subyek
penelitian yang berjumlah 32 siswa adalah dari kelas XB.
3.6 Teknik
pengumpulan sampel
Dalam
penelitia ini, sampel yang digunakan terdiri atas 1 kelas yaitu kelas XB.
Penentuan besarnya sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan pertimbangan
dari Suharsini Arikunto (2006 :134) sebagai berikut :
Apabila
subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya
merupakan penelitian populasi. Tetapi, jika jumlah subjeknya besar, dapat
diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih, tergantung setidak tidaknya
dari :
1)
Kemampuan
peneliti dilihat dari waktu,tenaga, dan dana.
2)
Sempit
luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini menyangkut banyak
sedikitnya data.
3)
Besar
kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resikonya
besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik.
Berdasarkan pendapat diatas,
besarnya sampel yang diambil adalah 20% dari populasi, sehingga jumlah sampel
yang diperoleh 32 siswa.
3.7 Metode
pengumpulan data
Pengumpulan
data di maksud untuk mengungkap fakta mengenai variabel yang diteliti dengan
menggunakan metode yang tepat dan instrumen yang baku.”Didalam kegiatan
penelitian, cara memperoleh data dikenal sebagai metode pengumpulan
data”(Suharsimi Arikunto,2006 : 222). Untuk itu digunakan teknik teknik,
prosedur serta alat yang dapat diandalkan karena baik buruknya suatu penelitian
sebagian tergantung pada teknik teknik pengumpulan data.
Metode pengumpulan data yang
dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
a) Angket atau kuesioner
Angket atau kuesioner adalah
sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari
responden dalam arti laporan dalam pribadinya, atau hal hal yang ia ketahui
(Suharsimi Arikunto,2006 : 225).instrumen untuk metode angket adalah angket
atau kuesioner.
Dalam penelitian jenis ini
angket yang dipakai adalah angket tertutup,dengan maksud subyek yang dikenai
angket tinggal memilih jawaban yang tersedia.
b) Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mencari
data mengenai hal hal yang variabel yang berupa catatan, traskrip, buku, surat kabar, majalah,
prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Suharsimi
Arikunto,2006 : 231).
3.8 Metode
analisis data
Metode
analisis data adalah cara yang harus ditempuh untuk menguraikan data menurut
unsur unsur yang ada didalamnya sehingga mudah dibaca dan dienterpretasikan
(Suharsimi Arikunto,2006: 235).
Untuk
membuktikan hipotesis secara empiris, berdasarkan data penelitian setelah data
diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data untuk memperoleh
kesimpulan akhir dalam penelitian. Di dalam penelitian ini untuk teknik analisi
datanya peneliti menggunakan metode statistik, karena data yang dianalisis
adalah berupa angka-angka. Untuk memperoleh korelasi X1 dan X2 dengan Y (minat
dan motivasi belajar dengan prestasi belajar) digunakan analisis regresi dua
prediktor atau analisis regresi ganda.
Adapun rumus yang digunakan
dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis regresi dua prediktor :
1) Untuk persamaan garis regresi menggunakan
rumus :
Y = a1X1 + a2X2 + K
Keterangan:
X = variabel bebas (prediktor)
Y = variabel terikat (kriterium)
a = bilangan koefisien
K = bilangan konstan
(Sutrisno Hadi, 2000:18)
2) Untuk mencari korelasi kriterium dengan dua
prediktor Ry (1,2)
3) Untuk menguji signifikansi koefisien
korelasi (Freg)
4) Untuk
mencari sumbangan relatif (SR)
5) Untuk mencari sumbangan efektif (SE)
menggunakan rumus :
SE%x = SR% x R2
Keterangan:
SE% = sumbangan efektif prediktor
R2 = koefisien determinan
(Sutrisno Hadi, 2000:39)
Setelah rxy (korelasi
hitung) diketahui, untuk menguji signifikansi tidaknya r hitung dikonsultasikan
dengan r tabel dengan taraf signifikansi 5%. Pedoman yang digunakan adalah
sebagai berikut:
a. Jika r hitung > r tabel,
maka Ha diterima.
b. Jika r hitung < r
tabel, Ha ditolak.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rahman Shaleh. 2004. Psikologi Suatu Pengantar
Dalam Perspektif Islam. Jakarta: Predana Media
Djaali. 2007. Psikologi
pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Sardiman. 2003. Interaksi Dan Motivasi Belajar
Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Saiffudin Azwar. 2010.
Metode Penelitian.Yogyakarta: Pustaka Belajar
Slameto. 2010. Belajar Dan Faktor Faktor Yang
Mempengaruhinya.jakarta: Rineke Cipta
S.Nasution. 2000. Didaktik
Asas Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Sobur Alex. 2003. Psikologi Umum Dalam Lintasan
Sejarah. Bandung: Pustaka Setia
Sugiyono. 2001. Metode
Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif, Dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta
Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineke Cipta
Syaifudin Bahri Djamarah.
2008.psikologi belajar. Jakarta: Rineke Cipta
Syaiful Bahri Djamari.2012. Prestasi Belajar Dan
Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional
Langganan:
Postingan (Atom)





